KULTUR PESANTREN DI SEKOLAH BERBASIS PESANTREN

Kultur Pesantren Di Sekolah Berbasis Pesantren. Anggapan bahwa pendidikan di Indonesia belum optimal dalam membangun akhlak dan moral, sudah lama didengung-dengungkan. “Di bidang pendidikan, masalah yang dihadapi adalah berlangsungnya pendidikan yang kurang bermakna bagi pengembangan pribadi dan watak peserta didik, yang berakibat hilangnya kepribadian dan kesadaran akan makna hakiki kehidupan. Mata pelajaran yang ber orientasi akhlak dan moralitas serta pendidikan agama kurang diberikan dalam membentuk latihan-latihan pengamalan untuk menjadi corak kehidupan sehari-hari. Karenanya masyarakat cenderung tidak memiliki kepekaan yang cukup untuk membangun toleransi, kebersamaan, khususnya dengan menyadari keberadaan masyarakat yang majemuk.”

SMP berbasis pesantren menjawab problema pendidikan di indonesia dengan mengintegrasikan keunggulan ”sistem” pendidikan yang dikembangkan di sekolah dengan keunggulan ”sistem” pendidikan yang dilaksanakan di pesantren. Pendidikan di sekolah memiliki keunggulan dalam pengembangan peserta didik, karena didukung oleh pelaksanaan sistem yang berjenjang, program pendidikan yang didesain secara hierarkis dan sistematis, serta adanya standarisasi pencapaian keberhasilan pendidikan. Sedangkan pondok pesantren membangun akhlaq dan moral /karakter peserta didik/santri melalui  nilai-nilai yang terkandung dalam kultur-kultur(budaya) di pesantren, seperti  :

  1. Pendalaman ilmu agama;
  2. Mondok;
  3. Kepatuhan;
  4. Keteladanan;
  5. Kesalehan;
  6. Kemandirian;
  7. Kedisiplinan;
  8. Kesederhanaan;
  9. Toleransi;
  10. Qanaah;
  11. Rendah hati;
  12. Ketabahan;
  13. Kesetiakawanan/tolong menolong;
  14. Ketulusan;
  15. Konsisten;
  16. Kemasyarakatan; dan
  17. Kebersihan.

SMP Al Musyaffa’ kendal adalah salah satu SMP berbasis pesantren yang mengintregasikan “sistem pendidikan sekolah formal” sesuai dengan peraturan kementrian pendidikan, dan “sistem pendidikan pondok pesantren”  yang lebih menekankan pada aspek moral dan pembinaan kepribadian, Kultur kemandirian dan interaksi sosial dengan masyarakat sekitar secara langsung dan berlangsung dua puluh empat jam setiap hari, Penguasaan literatur klasik yang sarat dengan nilai-nilai dan pesan moral yang berguna bagi pengembangan peradaban yang beretika; Kharisma kyai sebagai manajer dan pengasuh lembaga pesantren, menjadikan panutan dan teladan dalam kehidupan sehari-hari; Hubungan kyai dan santri yang bersifat kekeluargaan dengan kepatuhan yang tinggi.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *